Jakarta, 26 Juli 2025 — Akademi Jurnalis Ekonomi dan Lingkungan (AJEL), sebuah inisiatif dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dengan dukungan Traction Energy Asia, resmi melepas angkatan ketiganya melalui seremoni kelulusan yang dirangkaikan dengan diskusi publik secara daring. Program yang telah berlangsung selama tiga tahun dengan total alumni 53 jurnalis ini terus memperkuat kapasitas jurnalis muda di berbagai daerah untuk meliput isu transisi energi, ekonomi hijau, dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat lokal.
Pada tahun ketiga pelaksanaannya, AJEL melibatkan 17 jurnalis dari Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara—tiga wilayah yang menjadi titik krusial dalam narasi transisi energi di Indonesia. Melalui pelatihan daring dan luring yang intensif, para peserta tidak hanya memperluas pemahaman mereka mengenai isu strategis tersebut, namun juga menghasilkan liputan-liputan mendalam yang menyuarakan realitas di lapangan.

Sebagai puncak program, para peserta AJEL Batch 3 meluncurkan buku berjudul “Kedok Palsu Transisi Energi”, sebuah kumpulan 21 laporan investigatif yang merekam paradoks dan kegagalan transisi energi di Indonesia. Laporan-laporan tersebut menyingkap bagaimana proyek-proyek energi yang diklaim sebagai “hijau” justru menimbulkan kerusakan ekologis, konflik sosial, hilangnya mata pencaharian, serta memperparah ketimpangan sosial.
Beberapa laporan penting dalam buku tersebut mengungkap pencemaran Sungai Konaweha akibat aktivitas smelter nikel di Morosi, Sulawesi Tenggara; dampak debu batu bara terhadap kesehatan warga di sekitar PLTU captive; hingga kerusakan ekosistem dan hilangnya spesies lokal akibat tambang dan PLTA di Kalimantan. Ironisnya, meskipun wilayah-wilayah ini disebut sebagai motor pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan justru meningkat dan masyarakat lokal kehilangan sumber penghidupan.

Karya para jurnalis yang berpartisipasi dalam AJEL III menunjukkan bahwa transisi energi Indonesia saat ini, meskipun berlabel “hijau”, masih jauh dari kata adil. Pembangunan yang mengorbankan lingkungan dan hak-hak rakyat bukanlah kemajuan. “Dunia jurnalisme membutuhkan suara-suara yang terus menantang mereka yang gagal memprioritaskan keberlanjutan dan keadilan sosial sebagai inti dari rencana pembangunan mereka,” ujar Tommy, Direktur Eksekutif Traction Energy Asia.
Diskusi publik dalam rangka kelulusan ini juga menjadi forum penting untuk mengevaluasi narasi transisi energi yang sering kali mengabaikan aspek keberlanjutan dan keadilan. AJEL menegaskan bahwa transisi energi tidak bisa hanya dilihat dari pergantian sumber energi fosil ke energi terbarukan, melainkan harus menyentuh transformasi sosial, ekonomi, dan ekologis secara menyeluruh.
Selain menjadi ajang perayaan kelulusan, kegiatan ini diharapkan dapat menyalakan kembali semangat kolaborasi dan liputan kolektif yang berpihak pada keberlanjutan serta keadilan sosial. AJEL akan terus membuka ruang belajar dan berjejaring bagi jurnalis yang ingin menjadi bagian dari gerakan jurnalisme lingkungan yang kuat, berintegritas, dan berdampak.
Buku bisa diunduh disini:
Bahasa Indonesia: https://s.id/KedokPalsuTransisiEnergi
English: https://s.id/BehindTheMaskofEnergiTransition
Tentang AJEL
Akademi Jurnalis Ekonomi dan Lingkungan (AJEL) adalah program penguatan kapasitas jurnalis yang diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dengan dukungan Traction Energy Asia. AJEL bertujuan membekali jurnalis dengan pengetahuan kritis dan keterampilan liputan isu energi dan lingkungan secara mendalam dan berpihak pada kepentingan publik.